Total Tayangan Halaman

Minggu, 17 Juli 2011

Askep Klien Dengan Lithotripsi


A. Landasan Teori
1. Pengertian
Lithotripsi adalah suatu metode bedah untuk mengangkat batu dari saluran perkemihan yang dapat menyebabkan obstruksi saluran kemih.

 Extracorporeal Shock Wave Litotripsi (ESWL)
 
2. Etiologi
Penyebab utama dari Lithotripsi adalah, antara lain :
a. Ginjal Calculi
b. Ptosis
c. Penyakit polisistik
d. Obstruksi ureter Calculi
e. Trauma
f. Neprotopsis (ginjal terapung atau ginjal yang turun)
g. Pembesaran kelenjar limfe
h. Limposarkoma
i. Penyakit hodkin
j. Saluran kemih bawah Neoplasma pada kandung kemih
k. Striktur urethra
l. Trauma
m. Inflamasi kronis
n. Kalkuli
o. Tumor
p. Prostat hipertropi benigna (benigna prostat hipertropi/BPH)
 
3. Patofisiologi
Obstruksi perkemihan dapat terjadi disemua sistem perkemihan baik dari ginjal sampai uretra yang dapat menyebabkan tekanan yang dapat menyebabkan kerusakan fungsional dan anatomi pada jaringan parenkim ginjal. Bila salah satu bagian dari kandung kemih tersumbat , urin akan terkumpul dibelakang sumbatan yang dapat menimbulkan pelebaran pada struktur. Otot-otot pada daerah aferen berkontraksi untuk mendorong urin dari tempat yang tersumbat. Pada sumbatan yang sebagian dapat menimbulkan dilatasi yang lamban pada struktur didepan penyumbatan tanpa gangguan fungsional. Tapi bila obstruksi meningkat mengakibatkan juga meningkatnya peningkatan tekanan pada sistem tubulus dibelakang penyumbatan menimbulkan aliran membalik dari urin sampai pelvis renalis dan menimbulkan pelebaran (hydroneprosis). Tekanan yang meningkat pada pelvis renalis berdampak kerusakan pada jaringan ginjal dan menimbulkan kegagalan ginjal.Obstruksi aliran kemih pada saat terjadinya penurunan mencapai titik stagnasi merupakan media baik untuk kultur pertumbuhan bakteri sehingga berpotensi terjadinya infeksi

Resiko yang sering tejadi apabila obstruksi mengenai pada saluran kemih bagian bawah dapat berakibat distensi vesica urinaria dan bila berlangsung lama dapat berakibat serabut-serabut otot menjadi hipertropi dan divercula (hernia dari kantong-kantong mukosa kandung kemih) dan akibat divertuculum menahan urin sering menyebabkan infeksi dan obstruksi yang terjadi pada saluran kemih bagian atas adalah timbulnya hidronefrosis karena ukuran ureter yang kecil dan juga ukuran pelvis renalis sehingga peningkatan tekanan menyebabkan ischemia arteri renalis diantara korteks renalis dan medula terjadi pelebaran tubulus yang berdampak rusaknya tubulus.
 
Salah satu obstruksi yang paling sering terjadi adalah akibat obstruksi oleh batu pada saluran perkemihan yang dapat mengenai ginjal, ureter dan kandung kemih. Dan kasus terjadinya batu masih idiopatik sering predisposisi akibat intake kalsium oksalat dan fosfat, asam urin, cystine yang terlalu banyak.
Proses terbentuknya batu diakibatkan oleh kristalisasi dari mineral dari matriks seputar pus, darah, jaringan yang tidak vital dan tiga perempat batu dalah terdiri dari bahan kalsium, fosfat dan asam urin dan systine serta peran peningkatan kosentrasi dari larutan urin disebabkan intake cairan rendah dan bahan-bahan organik akibat infeksi seperti peningkatan amonium dan magnesium fosfat.

4. Manifestasi Klinis
o Dsyuria sampai nokturia
o Timbulnya infeksi
o Timbul rasa nyeri pinggir badan dan dapat juga timbul rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk (kolik)
o Mual dan muntah

5. Pemeriksaan Penunjang
o X-Ray (Rontgen)
o Hasil laboratorium
o IVP
o USG

6. Penatalaksanaan Medis

o Konservatif : intake hidrasi 2500 ml/hari atau lebih banyak asal tidak kontradiksi.
o Operatif : dengan dilakukan lithotripsi


B. Asuhan Keperawatan
 
1. Pengkajian
2. Prioritas Masalah
o Mengatasi kecemasan
o Mengatasi nyeri
o Mencegah komplikasi sepeprti perdarahan, output urin,
o Memberi informasi tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan meliputi :
1. Metode dalam mencegah infeksi saluran kemih dengan cara minum sekurang-kurangnya 2500 ml tiap hari
2. Mencegah kondisi yang dapat menimbulkan statis urin bila mungkin (seperti terlalu lama tidak ada kegiatan.
3. Melaksanakan hygiene yang bak
4. diet melalui pantangan.
5. Lapor bila ada tanda-tanda adanya batu.
 
3. Diagnosa Keperawatan
a.  1. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional, ketidakakraban dengan lingkungan, ancaman kematian, perubahan pada status kesehatan, prosedur pra operasi & prosedur pasca operasi

b. Gangguan rasa nyaman: Nyeri behubungan de-ngan akibat tindakan litrotripsi 
 
c.  Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
 
d.  Gangguan aktivitas berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler skeletal, nyeri, immobilisasi.
 
e.  Kurangnya pengetahuan ttg kondisi, prognosa, dan pengobatan berhubungan dengan kesa-lahan dalam penafsiran, tidak familier dengan sumber informasi
 
4. Intervensi Keperawatan
a. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional, ketidakakraban dengan lingkungan, ancaman kematian, perubahan pada status kesehatan, prosedur pra operasi & prosedur pasca operasi. 
 
- Tindakan Independen
  Sediakan waktu kunjungan oleh personel kamar operasi sebelum pembedahan jika memungkinkan, untuk mendiskusikan hal-hal yang perlu diketahui klien sebelum pembedahan.
Informasikan pada klien/ keluarga tentang peran advokat perawat intraoperasi
Identifikasi tingkat rasa takut yang mengharuskan dilakukannya penundaan prosedur pembedahan.
Beritahu klien kemungkinan dilakukannya anestesi lokal atau spinal dimana rasa pusing atau mengantuk mungkin saja terjadi.
Perkenalkan staf pada waktu pergantian ke ruang operasi.
Kontrol stimuli eksternal.
- Tindakan Kolaborasi
Rujuk pada rohaniawan, spesialis klinis perawat psikiatri, konseling psikiatri jika diperlukan.
Diskusikan penundaan pembedahan dengan dokter, anestesiologis, klien dan keluarga sesuai kebutuhan.
Berikan obat sesuai petunjuk, seperti zat-zat sedatif, hipnotis; tranquilizer IV. Dapat meredakan keresahan klien dan menyediakan informasi untuk perawatan intra operasi formulatif.
Dapat mengembangkan rasa percaya/ hubungan, menurunkan rasa takut akan kehilangan kontrol pada lingkungan yang asing.
Rasa takut yang berlebihan/terus menerus akan mengakibatkan reaksi stress yang berlebihan.
Dapat mengurangi ansietas /rasa takut.
Menciptakan hubungan dan kenyamanan psikologis.
Suara gaduh & keri-butan akan meningkatkan ansietas.
Konseling profesional mungkin dibutuhkan klien untuk mengatasi rasa takut.
Mungkin diperlukan jika rasa takut yang berlebihan tidak berkurang.
Untuk meningkatkan tidur malam hari sebelum pembedahan; meningkatkan kemampuan koping.
 
2. Gangguan rasa nyaman : Nyeri behubungan de-ngan akibat tindakan litrotripsi 
 
- Tindakan Independen:
Mengkaji karakteristik nyeri : lokasi, durasi, intensitas nyeri dengan menggunakan skala nyeri (0-10).
Mempertahankan immobilisasi (back slab).
Berikan sokongan (support) pada area yang luka.
Menjelaskan seluruh prosedur di atas.
- Tindakan Kolaborasi
Pemberian obat-obatan analgesik.
Untuk mengetahui tingkat rasa nyeri sehingga dapat menentukan jenis tindak annya.
Mencegah pergeseran tulang dan penekanan pada jaringan yang luka.
Peningkatan vena return, menurunkan edem, dan mengurangi nyeri.
Untuk mempersiapkan mental serta agar pasien berpartisipasi pada setiap tindakan yang akan dilakukan.
Mengurangi rasa nyeri.
 
3. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
 
- Tindakan Independen
Kaji keadaan tanda-tanda infeksi) : edema, rubor, kalor, dolor, fungsi laesa.
Merawat luka dengan menggunakan tehnik aseptik.
Mewaspadai adanya keluhan nyeri mendadak, keterbatasan gerak, edema lokal, eritema pada daerah trauma.

- Tindakan Kolaborasi
Pemeriksaan darah : leukosit.
 
Pemberian obat-obatan :
antibiotika dan TT (Toksoid Tetanus).
Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi.
Meminimalkan terjadinya kontaminasi.
Mencegah kontaminasi dan kemungkinan infeksi silang.
Merupakan indikasi adanya osteomilitis.
Leukosit yang meningkat artinya sudah terjadi proses infeksi .
Untuk mencegah kelanjutan terjadi-nya infeksi dan pen-cegahan tetanus.
Mempercepat proses penyembuhan luka dan dan pencegahan peningkatan infeksi.
 
4. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler skeletal, nyeri, immobilisasi. 
 
- Tindakan Independen
Kaji tingkat immobilisasi yang disebabkan oleh edema dan persepsi pasien tentang immobilisasi tersebut.
Mendorong partisipasi dalam aktivitas rekreasi (menonton TV, membaca koran dll ).
Menganjurkan pasien untuk melakukan latihan pasif dan aktif pada yang cedera maupun yang tidak.
Membantu pasien dalam perawatan diri
Auskultasi bising usus, monitor kebiasaan eliminasi dan menganjurkan agar b.a.b. teratur.
Memberikan diit tinggi protein, vitamin, dan mineral.
- Tindakan Kolaborrasi
Konsul dengan bagian fisio-terapi.
Pasien akan membatasi gerak karena salah persepsi (persepsi tidak proporsional).
Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memusatkan perhatian, meningkatkan perasaan, mengontrol diri pasien dan membantu dalam mengu-rangi isolasi sosial.
Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan mobilitas sendi, mencegah kontraktur/atropi dan reapsorbsi Ca yang tidak digunakan.
Meningkatkan kekuatan dan sirkulasi otot, meningkatkan pasien dalam mengontrol situasi, meningkatkan kemauan pasien untuk sembuh
Bedrest, penggunaan analgetika dan perubahan diit dapat menyebabkan penurunan peristaltik usus dan konstipasi.
Mempercepat proses penyembuhan, mencegah penurunan BB, karena pada immobilisasi biasanya terjadi pe-nurunan BB.
Untuk menentukan program latihan.
 
5. Kurangnya pengetahuan ttg kondisi, prognosa, dan pengobatan berhubungan dengan kesa-lahan dalam penafsiran, tidak familier dengan sumber informasi  
 
- Tindakan Kolabarasi
Menjelaskan tentang kelainan yg muncul prognosa, dan harapan yang akan datang.
Memberikan dukungan cara - cara mobilisasi dan ambulasi sebagaimana yang di anjurkan oleh bagian fisioterapi.
Memilah-milah aktifitas yg bisa mandiri dan yang harus dibantu.
Mengidentifikasi pelayanan umum yang tersedia seperti tim rehabilitasi, perawat keluarga (home care).
Mendiskusikan tentang perawatan lanjutan.
Pasien mengetahui kondisi saat ini dan hari depan sehingga pasien dapat menentukan pilihan..
Sebagian besar fraktur memerlukan penopang dan fiksasi selama proses penyembuhan sehingga keterlambatan penyembuhan disebabkan oleh penggunaan alat bantu yang kurang tepat.
Mengorganisasikan kegiatan yang diperlukan dan siapa yang perlu menolongnya (apakah fisioterapist, perawat atau ke luarga).
Membantu memfasilitasi perawatan mandiri, memberi support untuk mandiri.
Penyembuhan fraktur tulang kemungkinan lama (kurang lebih 1 tahun) sehingga perlu disiapkan untuk perencanaan perawatan lanjutan dan pasien kooperatif.
 
 
 
Daftar Pustaka
- Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Diagnostik Keperawatan. EGC. Jakarta.
- Doengoes, Marilyn E, et all. 2000. Rencana Asuhan keperawatan; Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC. Jakarta.
- Donna. 1995. Medical Surgical Nursing; 2nd edition. WB Saunders.
- Long, C. Barbara. 1996. Perawatan Medikal Bedah; Suatu Pendekatan Proses Keperawatan Vol. 3. IAPK Pajajaran. Bandung.
- Padoli. 2000. Diktat Kuliah PSIK Angkatan I TA. 1999/2000. Surabaya.
- Long; BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach. St. Louis. Cv. Mosby Company.

Askep Jiwa Dengan Gangguan Kognitif

A. Landasan Teori 

1. Pengertian
Kognitif adalah : Kemampuan berpikir dan memberikan rasional, termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan. (Stuart and Sundeen, 1987. Hal.612).
Gangguan kognitif erat kaitannya dengan fungsi otak, karena kemampuan pasien untuk berpikir akan dipengaruhi oleh keadaan otak .

Klien Gangguan Kognitif

2. Fungsi Otak
1). Lobus Frontalis
  • Pada bagian lobus ini berfungsi untuk : Proses belajar : Abstraksi, Alasan
2). Lobus Temporal
  • Diskriminasi bunyi
  • Perilaku verbal
  • Berbicara
3). Lobus Parietal
  • Diskriminasi waktu
  • Fungsi somatic
  • Fungsi motorik
4). Lobus Oksipitalis
  • Diskriminasi visual
  • Diskriminasi beberapa aspek memori

5). Sisitim Limbik
  • Perhatian
  • Flight of idea
  • Memori
  • Daya ingat
Secara umum apabila terjadi gangguan pada otak, maka seseorang akan mengalami gejala yang berbeda, sesuai dengan daerah yang terganggu yaitu :

1). Gangguan pada lobus frontalis , akan ditemukan gejala-gejala sbb :
  • Kemampuan memecahkan masalah berkurang
  • Hilang rasa sosial dan moral
  • Impilsif
  • Regres
2). Gangguan pada lobus temporalis akan ditemukan gejala sbb :
  • Amnesia
  • Dimensia
3). Gangguan pada lobus parietalis dan oksipitalis akan ditemukan gejala gejala yang hampir sama, tapi secara umum akan terjadi disorientasi

4). Gangguan pada sistim limbik akan menimbulkan gejala yang bervariasi antara lain :
  • Gangguan daya ingat
  • Memori
  • Disorientasi


B. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

a. Faktor Predisposisi
  • Gangguan fungsi susunan saraf pusat
  • Gangguan pengiriman nutrisi
  • Gangguan peredaran darah
b. Faktor Presipitasi
  • Hipoksia
  • Anemia hipoksik
  • Histotoksik hipoksia
  • Hipoksemia hipopoksik
  • Iskemia hipoksik
Suplai darah ke otak menurun/berkurang

1. Gangguan metabolisme
Malfungsi endokrin : Underproduct / Overproduct Hormon
  • Hipotiroidisme
  • Hipertiroidisme
  • Hipoglikemia
  • Hipopituitarisme
2. Racun, Infeksi
  • Gagal ginjal
  • Syphilis
  • Aids Dement Comp
3. Perubahan Struktur
  • Tumor
  • Trauma
4. Stimulasi Sensori
  • Stimulasi sensori berkurang
  • Stimulasi berlebih
c. Perilaku
Delirum adalah : Suatu keadaan proses pikir yang terganggu, ditandai dengan: Gangguan perhatian, memori, pikiran dan orientasi
Demensia : Suatu keadaan respon kognitif maladaptif yang ditandai dengan hilangnya kemampuan intelektual/ kerusakan memori, penilaian, berpikir abstrak.

Karakteristik Delirium dan demensia
  • Biasanya tiba-tiba
  • Biasanya singkat/ < 1 bulan
  • Racun, infeksi, trauma,
  • Fluktuasi tingkat kesadaran 
  • Disorientasi 
  • Gelisah
  • Agitasi
  • Biasanya perlahan 
  • Biasanya lama dan progressif 
  • Paling banyak dijumpai pada usia & gt; 65 th
  • Hipertensi, hipotensi, anemia. Racun, deficit vitamin, tumor atropi jaringan otak
  • Hilang daya ingat
  • Kerusakan penilaian
  • Perhatian menurun
  • Perilaku sosial tidak
  • Ilusi
  • Halusinasi
  • Pikiran tidak teratur
  • Gangguan penilaian dan pengambilan keputusan
  • Afek labil
  • Sesuai
  • Agitasi
d. Mekanisme koping
  • Dipengaruhi pengalaman masa lalu
  • Regresi
  • Rasionalisasi
  • Denial
  • Intelektualisasi
e. Sumber Koping
  • Pasien
  • Keluarga
  • Teman
2. Diagnosa Keperawatan
  • Anxietas
  • Komunikasi, kerusakan verbal
  • Resiko tinggi terhadap cedera
  • Sindrom defisit perawatan diri ( mandi,/kebersihan diri, makan, berpakaian, berhias, toileting
  • Perubahan sensori/perseptual ( penglihatan, pendengaran, pengecapan,
  • perabaan, dan penghidu)
  • Gangguan pola tidur
  • Perubahan proses pikir ( Stuart and Sundeen, 1995.hal 556 )
a. Gangguan proses pikir berhubungan dengan gangguan otak ditandai dengan :
  • Interpretasi lingkungan yang tidak akurat
  • Kurang memori saat ini
  • Kerusakan kemampuan memberikan rasional
  • Konfabulasi
b. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan :
  • Ketakutan
  • Disorientasi yang ditandai dengan perilaku agitasi
c. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan :
  • Kerusakan kognitif
  • Kehilangan memori saat ini
  • Konfabulasi
3. Intervensi Keperawatan
a. Identifikasi hasil :
  • Pasien dapat mencapai fungsi kognitif yang optimal
b. Prioritas :
  • Menjaga keselamatan hidup
  • Pemenuhan kebutuhan bio-psiko-sosial
  • Libatkan keluarga
  • Pendidikan kesehatan mental
c. Usaha perawatan :
  • Memfungsikan pasien seoptimal mungkin sesuai kemampuan pasien
4. Implementasi Keperawatan

1. Intervensi Delirium :

a. Kebutuhan Fisiologis
  • Prioritas : menjaga keselamatan hidup
  • Kebutuhan dasar dengan mengutamakan nutrisi dan cairan
  • Jika pasien sangat gelisah perlu :
  • Pengikatan untuk menjaga therapi, tapi sedapat mungkin harus
  • dipertimbangkan dan jangan ditinggal sendiri
  • Gangguan tidur : Kolaborasi pemberian obat tidur, Gosok punggung, Beri susu hangat, Berbicara lembut, Libatkan keluarga, Temani menjelang tidur, Buat jadwal tetap untuk bangun dan tidur, Hindari tidur diluar jam tidur, Mandi sore dengan air hangat, Hindari minum yang dapat mencegah tidur seperti : kopi, dll, Lakukan methode relaksasi seperti : napas dalam
b. Disorientasi :
  • Ruangan yang terang
  • Buat jam, kalender dalam ruangan
  • Lakukan kunjungan sesering mungkin
  • Orientasikan pada situasi lingkungan
  • Beri nama/ petunjuk/ tanda yang jelas pada ruangan/ kamar
  • Orientasikan pasien pada barang milik pribadinya ( kamar, tempat tidur, lemari, photo keluarga, pakaian, sandal ,dll)
  • Tempatkan alat-alat yang membantu orientasi massa
  • Ikutkan dalam therapi aktifitas kelompok dengan program orientasi realita (orang, tempat, waktu).
c. Halusinasi
  • Lindungi pasien dan orang lain dari perilaku merusak diri
  • Ruangan : Hindari dari benda-benda berbahaya, Barang-barang seminimal mungkin
  • Perawatan 1 – 1 dengan pengawasan yang ketat
  • Orientasikan pada realita
  • Dukungan dan peran serta keluarga
  • Maksimalkan rasa aman
  • Sikap yang tegas dari pemberi/ pelayanan perawatan (konsisten)
d. Komunikasi
  • Pesan jelas
  • Sederhana
  • Singkat dan beri pilihan terbatas
e. Pendidikan kesehatan
  • Mulai saat pasien bertanya tentang yang terjadi pada keadaan
  • sebelumnya
  • Seharusnya perawat harus harus tahu sebelumnya tentang : Masalah pasien, Stressor, Pengobatan, Rencana perawatan, Usaha pencegahan, Rencana perawatan dirumah
  • Penjelasan diulang beberapa kali
  • Beri petunjuk lisan dan tertulis
  • Libatkan anggota keluarga agar dapat melanjutkan perawatan dirumah dengan baik sesuai rencana yang telah ditentukan
2). Intervensi Demensia :

a. Orientasi
  • Tujuan : Membentuk pasien berfungsi dilingkungannya
  • Tulis nama petugas pada kamar pasien jelas, besar, sehingga dapat dibaca pasien
  • Orientasikan pada situasi lingkungan
  • Perhatikan penerangan terutama dimalam hari
  • Kontak personal dan fisik sesring mungkin
  • Libatkan dalam kegiatan T.A.K
  • Tanamkan kesadaran : Mengapa pasien dirawat, Memberikan percaya diri, Berhubungan dengan orang lain, Tanggap situasi lingkungan dengan menggunakan panca indera, Interaksi personal
  • Identifikasi proses pulang
b. Komunikasi
  • Membina hubungan saling percaya : Umpan balik yang positif, Tentramkan hati, Ulangi kontrak, Respek, pendengaran yang baik, Jangan terdesak, Jangan memaksa
  • Komunikasi verbal : Jelas, Ringkas, Tidak terburu buru
  • Topik percakapan dipilih oleh pasien
  • Topik buat spesipik
  • Waktu cukup untuk pasien
  • Pertanyaan tertutup
  • Pelan dan diplomatis dalam menghadapi persepsi yang salah
  • Empati
  • Gunakan tehnik klarifikasi
  • Summary
  • Hangat
  • Perhatian
c. Pengaturan koping
  • Koping yang selama dipakai ini yang positif positif dimaksimalkan dan yang negatif diminimalkan
  • Bantu mencari koping baru yang posistf
d. Kurangi agitasi
  • Didorong melakukan sesuatu yang tidak biasa dan tidak jelas
  • Beri penjelasan
  • Beri pilihan
  • Penyaluran energi : Perawatan mandiri, Menggunakan kekuatan dan kemampuan dengan tepat, misalnya berolahraga
  • Saat agitasi : Tetap senyum, Tunjukkan sikap bersahabat, Empati
e. Keluarga dan masyarakat
  • Siapkan keluarga untuk menerima keadaan pasien
  • Siapkan fasilitas dalam berinteraksi dengan dimasyarakat
  • Perlu bantuan dalam merawat 24 jam dirumah, yang diprogramkan melalui : Puskesmas, Pos-pos pelayanan kesehatan dirumah sakit
f. Farmakologi
  • Tergantung penyebab gangguan, seperti : Penyakit Alzheimer’s
  • Pada orang tua harus hati-hati, karena keadaan yang sensitive
g. Wandering
  • Perilaku yang harus diperhatikan oleh pemberi perawatan
h. Therapeutik Milieu
  • Stimulasi kognitif
i. Intervensi interpersonal
  • Psychotherapi
  • Life review therafi
  • Untuk menyelesaikan masalah yang melibatkan individu dan kelompok dengan saling menceritakan riwayat hidup latihan dan terafi kognitif
  • Therapi relaksasi
  • Kelompok pendukung dan konseling
j. Gangguan daya ingat
  • Mulai percakapan dengan menyebut nama anda dan panggil nama pasien
  • Hindarkan konfrontasi atas pernyataan pasien yang salah
  • Penataan barang pribadi jangan dirubah
  • Lakukan program orientasi
Daftar Pustaka
  1. Fortinash, C.M, dan Holloday, P.A. (1991). Psychiatric nursing care plan. St.Louis : Mosby year book
  2. Keltner, N.L, Schueke, L.H dan Bostrom, CE (1991). Psychiatric nursing :a psycho therapeutic management approach. St. Louis : Mosby year book
  3. Stuart, Gw. and Sundeen S.J (1995). Perbandingan Delirium, Depresi dan Demensia.St.louis : Mosby year book
  4. Stuart, Gw. And Sundeen S.J (1995). Pendidikan Kesehtan Keluarga . St. Louis Mosby Year book
  5. Stuart, Gw. And Sundeen S,J (1987). Petunjuk Komunikasi dengan Pasien Demensia.St. Louis Mosby year Book
  6. Towsend, M.C (1993). Psychiatric Mental Health Nursing : Concept of Care .Philadelphia, 2nd, Davis Company.
  7. Wilson, H.S, and Kneils, C.R . (1992). Psychiatric Nursing . California : Addison



Sumber Referensi : 
- http://yoedhasflyingdutchman.blogspot.com/2010/04/asuhan-keperawatan-pasien-dengan_9689.html#

Askep Klien Dengan Osteomalasia


A. Landasan Teori

1. Defenisi
Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang dikarakteristikkan oleh kurangnya mineral dari tulang (menyerupai penyakit yang menyerang anak-anak yang disebut rickets) pada orang dewasa, osteomalasia berlangsung kronis dan terjadi deformitas skeletal, terjadi tidak separah dengan yang menyerang anak-anak karena pada orang dewasa pertumbuhan tulang sudah lengkap (komplit).



2. Etiologi
Penyebabnya ditandai dengan keadaan kekurangan vitamin D (calcitrol), dimana terjadi peningkatan absorbsi kalsium dari sistem pencernaan dan penyediaan mineral dari tulang. penyediaan calsium dan phosfat dalam cairan eksta seluler lambat. Tanpa adekuatnya vitamin D, kalsium dan fosfat tidak akan terjadi di tempat pembentukan kalsium dalam tulang.

3. Tanda dan Gejala

a. Nyeri tulang
b. Deformitas mungkin timbul pada punggung dan panggul, tungkai, iga, dan adanya daerah-daerah dimana terdapat pseudofraktur
c. Kelemahan otot bila kalsium serum sangat rendah, tetapi mungkin jarang terjadi

4. Patofisiologi
Ada berbagai macam penyebab dari osteomalasia yang umumnya menyebabkan gangguan metabolisme mineral. Faktor yang berbahaya untuk perkembangan osteomalasia diantaranya kesalahan diet, malabsorbsi, gastrectomy, gagal ginjal kronik, terapi anticonvulsan jangka lama (phenyton, phenobarbital) dan insufisiensi vitamin D (diet, sinar matahari). Tipe malnutrisi (defisiensi vitamin D sering digolongkan dalam hal kekurangan calsium) terutama gangguan fungsi menuju kerusakan, tetapi faktor makanan dan kurangnya pengetahuan tentang nutrisi yang juga dapat menjadi faktor pencetus hal itu terjadi dengan frekuensi tersering dimana kandungan vitamin D dalam makanan kurang dan adanya kesalahan diet serta kurangnya sinar matahari.Osteomalasia kemungkinan terjadi sebagai akibat dari kegagalan dari absorbsi calsium atau kekurangan calsium dari tubuh. Gangguan gastrointestinal dimana kurangnya absorbsi lemak menyebabkan osteomalasia. Kekurangan lain selain vitamin D (semua vitamin yang larut dalam lemak) dan kalsium. Ekskresi yang paling terakhir terdapat dalam faeces bercampur dengan asam lemak (fatty acid). Sebagai contoh dapat terjadi gangguan diantaranya celiac disease, obstruksi sistem pencernaan kronik, pankreatitis kronis dan reseksi perut yang kecil. Lagi pula penyakit hati dan ginjal dapat menyebabkan kekurangan vitamin D, karenanya organ-organ tersebut mengubah vitamin D ke dalam untuk aktif. Terakhir, hyperparatiroid menunjang terjadinya kekurangan pembentukan calsium, dengan demikian osteomalasia menyebabkan kenaikan ekskresi fosfat dalam urine.

5. Manifestasi klinik
Umumnya gejala yang memperberat dari osteomalasia adalah nyeri tulang dan kelemahan. Sebagai akibat dari defisiensi kalsium, biasanya terdapat kelemahan otot, pasien kemudian nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan loyo/lemah. Kemajuan penyakit, kaki terjadi bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan tulang), vertebra menjadi tertekan, pemendekan batang tubuh pasien dan kelainan bentuk thoraks (kifosis).

6. Pemeriksaan Penunjang

a. Kalsium dan fosfat anorganik rendah atau di bawah normal
b. Fosfatase alkali meninggi
c. Rontgen menunjukkan fraktur yang khas (Looser's zones) pada tulang-tulang pelvis dan tulang panjang dan terutama metatarsal dan metacarpal
d. Kadar vitamin D

7. Diagnosa banding
a. OsLeoporosis (senilis atau pasca-menopause)
b. Demineralisasi dan tulang yang tidak pernah dipergunakan
c. Kelainan tulang akibat hipoparatiroidisme

8. Penatalaksanaan
Pada defisiensi primer, suplementasi dengan vitamin D (2000 IU/hari) dan mengubah cara hidup bila diperlukan Pada enteropati dan penyebab yang lain, memperbaiki kondisi dan vitamin D (5000 IU/hari) dengan suplementasi kalsium.


B. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan
Pasien dengan osteomalasia biasanya sering mengeluh:
a. Nyeri tulang pada punggung bawah dan ekstremitas.
b. Kelemahan. (Gambaran dari ketidaknyamanan masih samar-samar)
c. Pasien mungkin ada yang fraktur,
d. Selama wawancara, informasikan tentang masalah yang nyata terdapat sehubungan dengan penyakitnya (sindrom malabsorbsi) dan kebiasaan diet dapat diketahui.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan kelemahan dan kemungkinan fraktur.
b. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit dan prosedur perawatan.
c. Gangguan konsep diri berhubungan dengan pembengkakan pada kaki, cara berjalan loyo/lemah, dan deformitas spinal.

3. Intervensi Keperawatan
Tujuan utama dari pasien dengan osteomalasia mungkin termasuk mengajarkan tentang proses penyakit dan prosedur perawatan, mengurangi nyeri dan memperbaiki serta meningkatkan konsep diri.

4. Implementasi keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan kelemahan dan kemungkinan fraktur.
Membantu mengurangi rasa nyeri. Pemeriksaan fisik, psikis dan pengobatan dilakukan untuk membantu mengurangi rasa ketidaknyamanan dan nyeri yang dialami pasien. Jadi selain kelemahan juga terdapat nyeri skelet. Anjurkan untuk bergerak ringan pada waktu pengkajian misalnya dengan mengubah posisi secara berulang-ulang untuk membantu mengurangi gejala ketidaknyamanan dengan immobilitas. Beri aktivitas yang mengalihkan perhatian pasien ke hal lain seperti mengajak bicara, nonton TV, dan tehnik distraksi lain, hal tersebut akan mengurangi persepsi klien terhadap nyeri. Analgetik dibutuhkan untuk mengurangi rasa nyeri, respon pasien terhadap pengobatan dimonitor sebagai respon keadaan untuk terapy.

b. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit dan prosedur perawatan.Pemahaman tentang proses penyakit dan prosedur perawatan. 
Pendidikan kesehatan tentang penyebab osteomalasia dan pendekatan untuk pengawasan penyakitnya. Pasien dianjurkan untuk diet sumber kalsium dan vitamin D (susu, sereal, telur dan hati ayam). Dosis yang tinggi dari vitamin D dapat menjadi racun dan faktor penunjang untuk terjadinya hypercalsemia, yang terpenting adalah memonitor tekanan rata-rata serum kalsium. Aktifitas diluar yang dilakukan adalah berjemur dibawah sinar matahari untuk mendapatkan sinar ultraviolet pada kulit. Dimana target penting dan dibutuhkan untuk memproduksi vitamin D dalam tubuh.

c. Gangguan konsep diri berhubungan dengan pembengkakan pada kaki, cara berjalan loyo/lemah, dan deformitas spinal. Peningkatan konsep diri. 
Untuk membangun sebuah hubungan kepercayaan pasien dalam hubungannnya dengan pelayanan perawat. Pasien diajak berdiskusi tentang body image dan metode koping yang efektif. Pasien diberi kesempatan untuk mengenal dan mengungkapkan perasaannya dan dimasukkan dalam rencana keperawatan sesuai masalahnya. Menciptakan partisipasi aktif pasien dan perawat dalam rangka mengontrol diri dan perasaannya untuk membantu memecahkan masalah pasien. Interaksi sosial membantu penerimaan klien akan keadaannya yang telah mengalami perubahan.

5. Evaluasi 
Hasil yang diharapkan :
a. Pemahaman tentang proses penyakit dan prosedur perawatan.
· Pasien mengetahui proses perjalanan penyakit dan prosedur perawatan.
· Penggunaan sesuai kebutuhan terapy calsium dan vitamin D.
· Menjemur dibawah sinar matahari.
· Memonitor rata-rata serum kalsium untuk kelanjutan kesembuhan penyakit.
· Selalu follow up tentang semua ketetapan perawatan kesehatan.

b. Mencapai pengurangan rasa nyeri.
· Pasien melaporkan adanya perasaan nyaman.
· Pasien melaporkan berkurangnya kelemahan tulang.
· Menunjukkan peningkatan konsep diri.
· Menunjukkan saling percaya dalam percakapan pasien – perawat.
· Peningkatan tingkat aktivitas
· Peningkatan interaksi social
· Discharge Planing 
 
Daftar Pustaka 
- Brunnner and Suddarth, Textbook of Medical Surgical Nursing, Eight Edition

Askep Klien Dengan Central Serous Chorioretinopathy


1. Definisi
Retinopati serosa sentral adalah suatu keadaan lepasnya retina dari lapis pigmen epitel di daerah makula akibat masuknya cairan melalui membran Bruch dan pigmen epitel yang inkompeten; yang nyatanya terlihat sebagai edema makula.

Retinopati serosa sentral merupakan kelainan pada makula lutea berupa penimbunan cairan yang mengakibatkan edema makula. Retinopati serosa sentral terutama terdapat pada dewasa muda. Laki-laki lebih banyak terkena dibanding wanita terutama yang sedang menderita stress berat, dimana tajam penglihatan akan turun secara mendadak dengan terdapatnya skotoma sentral dengan metamorfopsia.
 
Retinopati serosa sentral atau korioretinopati serosa sentral adalah sebuah penyakit dimana terdapat ablasio serosa retina neurosensorik sebagai akibat dari kebocoran cairan setempat dari koriokapilaris melalui suatu defek di epitel pigmen retina. Penyebab-penyebab lain bocornya epitel pigmen retina, seperti neovaskularisasi koroid, inflamasi atau tumor harus dipisahkan untuk membuat diagnosis.

Retinopati serosa sentral dapat dibagi menjadi dua gambaran klinis yang berbeda. Secara klasik, retinopati serosa sentral disebabkan oleh satu atau lebih kebocoran terpisah yang berlainan pada tingkat epitel pigmen retina yang terlihat pada angiografi fluoresens. Bagaimanapun, saat ini diketahui bahwa retinopati serosa sentral dapat muncul sebagai disfungsi epitel pigmen retina difus (misal epiteliopati pigmen retina difus, retinopati serosa sentral kronik, epitel pigmen retina terdekompensasi) yang ditandai dengan lepasnya retina neurosensorik melewati area atrofi epitel pigmen retina dan pigmen mottling. Selama angiografi fluoresens area hiperfluoresens granular yang luas berisi satu atau beberapa kebocoran halus yang terlihat.

2. Anatomo dan Fisiologi
a. Retina
Retina merupakan suatu struktur yang sangat terorganisir, yang terdiri dari lapisan-lapisan badan sel dan prosesus sinaptik. Walaupun ukurannya kompak dan tampak sederhana apabila dibandingkan dengan struktur saraf misalnya korteks serebrum, retina memiliki daya pengolahan yang sangat canggih. Pengolahan visual retina diuraikan oleh otak, dan persepsi warna, kontras, kedalaman, dan bentuk berlangsung di korteks.

b. Anatomi
Retina adalah selembar tipis jaringan saraf yang semitransparan dan multi lapis yang melapisi bagian dalam 2/3 posterior dinding bola mata. Retina membentang ke depan hampir sama jauhnya dengan korpus siliare dan berakhir di tepi ora serata. Permukaan luar retina sensorik bertumpuk dengan lapisan epitel berpigmen retina sehingga juga bertumbuk dengan membran Bruch, koroid dan sklera. Di sebagian besar tempat, retina dan epitelium pigmen retina mudah terpisah hingga membentuk suatu ruang subretina, seperti yang terjadi pada ablasio retina. Tetapi pada diskus optikus dan ora serata, retina dan epitelium pigmen retina saling melekat kuat, sehingga membatasi perluasan cairan subretina pada ablasio retina. Hal ini berlawanan dengan ruang subkoroid yang dapat terbentuk antara koroid dan sklera, yang meluas ke taji sklera. Dengan demikian ablasi koroid meluas melewati ora serata, di bawah pars plana dan pars plikata. Permukaan dalam retina menghadap ke vitreus.

 Anatomi Retina

Lapisan-lapisan retina, mulai dari sisi dalamnya, adalah sebagai berikut :
  1. Membrana limitans interna
  2. Lapisan serat saraf, yang mengandung akson-akson sel ganglion yang berjalan menuju ke nervus optikus
  3. Lapisan sel ganglion
  4. Lapisan pleksiformis dalam, yang mengandung sambungan-sambungan sel ganglion dengan sel amakrin dan sel bipolar
  5. Lapisan inti dalam badan sel bipolar, amakrin dan sel horizontal
  6. Lapisan pleksiformis luar, yang mengandung sambungan-sambungan sel bipolar dan sel horisontal dengan fotoreseptor
  7. Lapisan inti luar sel fotoreseptor
  8. Membrana limitans eksterna
  9. Lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar, batang dan kerucut
  10. Epitelium pigmen retina
c. Fisiologi
Retina adalah jaringan paling kompleks di mata. Untuk melihat, mata harus berfungsi sebagai suatu alat optis, sebagai suatu reseptor kompleks, dan sebagai suatu transduser yang efektif. Sel-sel batang dan kerucut di lapisan fotoreseptor mampu mengubah rangsangan cahaya menjadi suatu impuls saraf yang dihantarkan oleh lapisan serat saraf retina melalui saraf optikus dan akhirnya ke korteks penglihatan. Makula bertanggung jawab untuk ketajaman penglihatan yang terbaik dan untuk penglihatan warna, dan sebagian besar selnya adalah sel kerucut. Di fovea sentralis, terdapat hubungan hampir 1:1 antara fotoreseptor kerucut, sel ganglionnya dan serat saraf yang keluar, dan hal ini menjamin penglihatan paling tajam. Di retina perifer, banyak fotoreseptor dihubungkan ke sel ganglion yang sama, dan diperlukan sistem pemancar yang lebih kompleks. Akibat dari susunan seperti itulah makula terutama digunakan untuk penglihatan sentral dan warna (penglihatan fotopik) sedangkan bagian retina lainnya, yang sebagian besar terdiri dari fotoreseptor batang, digunakan terutama untuk penglihatan perifer dan malam (skotopik).

d. Pemeriksaan
Retina dapat diperiksa dengan oftalmoskop langsung atau tidak langsung atau dengan slitlamp (biomikroskop) dan lensa bikonveks kontak atau genggam. Dengan alat-alat ini, secara klinis pengamat yang berpengalaman mampu memisahkan lapisan-lapisan retina untuk menentukan jenis, tingkat, dan luas suatu penyakit retina. Fotografi fundus dan angiografi fluoresens merupakan alat bantu dalam pemeriksaan klinis: fotografi memungkinkan dokumentasi untuk perbandingan kemudian, dan angiografi menghasilkan detil vaskular yang penting untuk terapi penyakit retina dengan laser.

3. Etiologi
Retinopati serosa sentral sering disebut retinopati serosa sentral idiopatik yang artinya penyebabnya tidak diketahui.(1,6,7) Namun demikian, stres tampaknya memainkan peranan penting. Retinopati serosa sentral juga dihubungkan dengan kortisol dan kortikosteroid, dan orang dengan tingkat kortisol lebih tinggi daripada normal juga memiliki kecenderungan untuk menderita retinopati serosa sentral.

4. Patofisiologi
Hipotesa patofisiologi sebelumnya termasuk transpor ion abnormal melewati epitel pigmen retina dan vaskulopati koroid fokal. Munculnya angiografi ‘hijau indosianin’ telah menyoroti pentingnya sirkulasi koroid pada patogenesis retinopati serosa sentral. Angiografi ‘hijau indosianin’ telah mendemonstrasikan area hipermeabilitas dan hiperfluoresens koroid multifokal yang mengusulkan kompromi vaskuler koroid fokal. Beberapa pengamat meyakini bahwa kompromi vaskuler koroid pertama yang kemudian mengarah pada disfungsi sekunder melalui epitel pigmen retina.

Beberapa studi menggunakan elektroretinografi telah mendemonstrasikan disfungsi retinal difus bilateral bahkan ketika retinopati serosa sentral hanya aktif pada satu mata. Studi-studi ini mendukung keyakinan pada efek sistemik difus pada vaskularisasi koroid.

Kepribadian tipe A, hipertensi sistemik, dan sleep apnea obstruktif mungkin duhubungkan dengan retinopati serosa sentral. Diduga patogenesisnya adalah karena meningkatnya sirkulasi kortisol dan epinefrin, yang mempengaruhi autoregulasi dari sirkulasi koroid. Lebih lanjut, Tewari dkk mendemonstrasikan pasien dengan retinopati serosa sentral yang menunjukkan terganggunya respon autonomik yang secara berarti menurunkan aktifitas parasimpatetik dan secara berarti meningkatkan aktifitas simpatik.

Kortikosteroid memiliki efek langsung pada ekspresi gen reseptor adrenergik sehingga menambah efek keseluruhan katekolamin pada patogenesis retinopati serosa sentral. Berikutnya studi yang beragam telah dengan yakin melibatkan efek kortikosteroid pada perkembangan retinopati serosa sentral.

5.  Mortalitas/Morbiditas
Ablasio retina serosa secara khusus sembuh spontan pada kebanyakan pasien. Bahkan dengan kembalinya ketajaman penglihatan sentral yang baik, banyak dari pasien-pasien ini masih terdapat diskromatopsia, hilangnya sensitivitas terhadap kontras, metamorfopsia atau yang paling jarang adalah niktalopia.

Pasein dengan retinopati serosa sentral (yang ditandai dengan kebocoran setempat) memiliki resiko rekurensi 40-50℅ pada mata yang sama. Resiko terjadinya neovaskularisasi koroid yang muncul dari retinopati serosa sentral sebelumnya siperkirakan kecil (<>(2).

6. Usia dan Jenis Kelamin
Secara klasik, retinopati serosa sentral lebih sering mengenai laki-laki pada usia 20-55 tahun dengan kepribadian tipe A. Kondisi ini mempengaruhi laki-laki 6-10 kali lebih banyak dibandingkan perempuan.

7. Diagnosis
- Gambaran Klinis
  • Pandangan kabur / visus menurun 
  • Skotoma sentral 
  • Mikropsia
  • Metamorfopsia 
  • Penurunan kemampuan melihat warna dan kontras 
- Pemeriksaan Klinis
  • Oftalmoskopi indirek
Pada kasus tipikal telah menunjukkan lingkaran dangkal atau peninggian oval pada retina sensoris pada kutub posterior.
Lepasnya lapisan serosa retina neurosensoris, peninggian kubah jernih biasanya pada daerah perifovea, menyebabkan peningkatan relatif dalam hiperopia, penurunan yang dihubungkan pada ketajaman penglihatan tak terkoreksi dan mengubah refleks membran limitans interna. Lesi ini biasanya menghilang secara spontan dalam 3 – 4 bulan.
  • Biomikroskopi slitlamp
Perlu sekali dilakukan dalam menegakkan diagnosa dan menyingkirkan penyebab lain lepasnya retina sensoris (misal lubang diskus optikus, koloboma diskus optikus, tumor koroid dan membran neovaskuler subretina). Biomikroskopi menunjukkan retina sensoris yang terlepas sebagai sesuatu yang transparan dengan ketebalan yang normal. Terpisahnya retina sensoris yang terlepas tersebut dari epitel pigmen retina yang mendasarinya dapat diketahui dengan menandai bayangan semu diatas epitel pigmen retina oleh pembuluh darah retina. Pada kasus tertentu, presipitat-presipitat kecil dapat dilihat pada permukaan posterior retina sensoris yang terlepas. Kadang-kadang daerah abnormal pada epitel pigmen retina dapat juga dijumpai melalui cairan yang bocor dari koriokapiler ke dalam ruang subretina dan pada beberapa kasus terlepasnya epitel pigmen retina yang kecil dapat dijumpai dalam lapisan serosa yang lepas. Cairan subretina dapat jernih maupun keruh.
  • Angiografi fluorosens
Walaupun dalam banyak kasus diagnosa dibuat secara klinis, angiografi fluoresens membantu dalam membuat diagnosa pasti retinopati serosa sentral, dan dalam menyingkirkan munculnya membran neovaskuler subretina dalam kasus-kasus atipikal. Pada retinopati serosa sentral terdapat kerusakan sawar retina-darah bagian luar yang memungkinkan lewatnya molekul fluoresens bebas ke dalam ruang subretina. Pada angiografi ada 2 pola yang terlihat :
  1. Gambaran kumpulan-asap (smoke-stack)
Selama fase awal perpindahan zat kontras, bintik hiperfluoresens muncul yang kemudian membesar secara vertikal. Selama fase vena lambat, cairan memasuki ruang subretina dan naik secara vertikal (seperti kumpulan asap) dari titik kebocoran sampai mencapai batas atas lepasannya. Zat kontras kemudian menyebar ke lateral mengambil bentuk mushroom atau payung, sampai keseluruhan area yang lepas terisi.(8)
  1. Gambaran noda tinta (ink-blot)
Kadang-kadang dapat terlihat pada bintik hiperfluoresens pertama yang berangsur-angsur bertambah ukurannya sampai seluruh ruang subretina terisi.

8. Diagnosa Banding
  • Degenerasi makula terkait-usia
  • Edema makula Irvine-Gass
  • Lubang makula
  • Membran neovaskular subretina
  • Neovaskularisasi koroid
  • Ablasio retina eksudatif
  • Penyakit Vogt-Koyanagi-Harada
9. Penatalaksanaan
Fotokoagulasi laser harus dipertimbangkan bagi keadaan-keadaan berikut: 
(1) ablasio retina serosa persisten lebih dari 4 bulan,
(2) rekurensi pada satu mata dengan penurunan penglihatan akibat retinopati serosa sebelumnya,
(3) munculnya penurunan penglihatan pada mata yang berlawanan akibat dari kejadian retinopati serosa sentral sebelumnya
(4) pekerjaan, atau pasien membutuhkan syarat perbaikan penglihatan segera.

Keberhasilan fotokoagulasi laser tidak terbukti jelas dalam menangani tempat lepasnya dan bocornya epitel pigmen retina jika fotokoagulasi laser ditempatkan pada area fovea. Robertson dan Ilstrup (1983) mengamati bahwa fotokoagulasi laser langsung pada area kebocoran epitel pigmen retina memperpendek kejadian retinopati serosa sentral kira-kira 2 bulan. Para pengamat ini lebih lanjut mencatat bahwa tidak terdapat rekurensi dalam periode 18 bulan, dimana rekurensi sebesar 34 ℅ telah diamati pada sekelompok pasien dengan fotokoagulasi indirek atau palsu.

Fotokoagulasi laser pada tempat kebocoran pada epitel pigmen retina tidak terlihat mempengaruhi hasil akhir visual secara bermakna. Fotokoagulasi laser tidak mengurangi baik angka rekurensi maupun prevalensi penyakit kronik dimana perubahan epitel pigmen epitel progresif menimbulkan ancaman hilangnya penglihatan secara permanen. Bagaimanapun, fotokoagulasi laser mempercepat penyembuhan gejala dengan mempersingkat lepasnya serosa lebih cepat.
Termoterapi transpupil telah dianjurkan sebagai alternatif dengan resiko lebih rendah dibandingkan fotokoagulasi laser pada kasus dimana kebocoran terdapat pada makula sentral.
Penderita retinopati serosa sentral biasanya menemukan cara mereka sendiri untuk menangani kondisi mereka, yang mungkin termasuk mengurangi stres dan mengubah pola makan.

10. Prognosis
Retinopati serosa sentralis merupakan penyakit yang akan hilang sendiri; biasanya akan terjadi remisi lengkap dalam 6 bulan. Retinopati serosa sentral dapat bersifat residif. Sekitar 80℅ akan mengalami resolusi cairan subretina spontan dan kembali normal atau mendekati normal, dalam 1-6 bulan. 20℅ sisanya lebih lama dari 6 bulan, namun mengalami resolusi dalam 12 bulan. Pada keadaan ini cairan subretina akan diserap kembali dan retina akan melekat kembali pada epitel pigmen tanpa gejala sisa subyektif yang menyolok. Metamorfopsia, penurunan dalam penglihatan cahaya, dan perubahan dalam penglihatan warna dapat bertahan selama beberapa bulan dalam derajat yang ringan namun jarang menimbulkan kecacatan; dan mungkin juga menjadi permanen akibat serangan rekuren multipel ataupun ablasio yang lama. Ketajaman penglihatan cenderung kembali normal. Jika gejala secara khusus mengganggu, fotokoagulasi laser dapat menurunkan lamanya waktu untuk resolusi

11. Komplikasi
  • Sebagian kecil pasien mengalami neovaskularisasi koroid pada tempat kebocoran dan bekas laser. Pengamatan retrospektif kasus ini menunjukkan bahwa setengah dari pasien-pasien tersebut mungkin memiliki tanda-tanda neovaskularisasi koroid semu pada saat pengobatan. Pada pasien yang lain, resiko neovaskularisasi koroid mungkin meningkat dengan pengobatan laser.
  • Ablasio retina bulosa akut dapat muncul sebaliknya pada pasien sehat dengan retinopati serosa sentral. Gambarannya dapat menyerupai penyakit Vogt-Koyanagi-Harada, ablasio retina regmatogenus, atau efusi uvea. Sebuah laporan kasus telah melibatkan penggunaan kortikosteroid pada retinopati serosa sentral sebagai faktor yang meningkatkan kemungkinan pembentukan fibrin subretina. Mengurangi dosis kortikosteroid secara bertahap akan menghasilkan perbaikan pada ablasio retina serosa
  • Dekompensasi epitel pigmen retina akibat serangan berulang akan berakibat atrofi epitel pigmen retina dan berikutnya atrofi retina. Dekompensasi epitel pigmen retina adalah manifestasi retinopati serosa sentral namun dapat juga dianggap sebagai komplikasi jangka panjang.

Sumber Referensi : 
- http://ningrumwahyuni.wordpress.com/2009/06/29/central-serous-chorioretinopathy/

ASKEP JIWA WAHAM

A. Landasan Teori
 
1. Pengertian
Waham adalah suatu sistem kepercayaan yang tidak dapat divalidasi/dipertemukan dengan realitas (Haber, 1982)
 
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya. (Budi Anna Keliat,1999).
 
Waham adalah kepercayaan yang salah terhadap obyek dan tidak konsisten dengan latar belakang intelektual dan budaya (Rawlin, 1993)

2. Jenis-jenis waham
a. Waham Agama
Keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan, diungkapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan

b. Waham Kebesaran
Klien yakin bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.

c. Waham Nihilistik
Klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.

d. Waham Sisip Pikir
Klien yakin bahwa ada ide pikiran orang lain yang disisipkan kedalam pikirannya, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.

e. Waham Siar Pikir
Klien yakin orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan walaupun tidak dinyatakannya kepada orang tersebut, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.

f. Waham Kontrol Pikir
Klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
 
3. Penyebab
Salah satu penyebab dari perubahan proses pikir : waham yaitu Gangguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, dan merasa gagal mencapai keinginan.

Tanda dan Gejala :
a. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
b. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
c. Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
d. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
e. Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakhiri kehidupannya. ( Budi Anna Keliat, 1999)

4. Proses Terjadinya Waham
a. Perasaan diancam oleh lingkungan, cemas, merasa sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi
b. Mencoba mengingkari ancaman dari persepsi diri atau objek realitas dengan menyalahartikan kesan terhadap kejadian
c. Individu memproyeksikan pikiran dan perasaan internal pada lingkungan sehingga perasaan, pikiran, dan keinginan negatif/tidak dapat diterima menjadi bagian eksternal
d. Individu mencoba memberi pembenaran/rasional/alasan interpretasi personal tentang realita pada diri sendiri atau orang lain
 
 
5. Tanda dan Gejala
a. Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan
b. Klien tampak tidak mempunyai orang lain
c. Curiga
d. Bermusuhan
e. Merusak (diri, orang lain, lingkungan)
f. Takut, sangat waspada
g. Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas
h. Ekspresi wajah tegang
i. Mudah tersinggung (Azis R dkk, 2003)
 
6. Akibat dari Waham
Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.

Tanda dan Gejala :
a. Memperlihatkan permusuhan
b. Mendekati orang lain dengan ancaman
c. Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
d. Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
e. Mempunyai rencana untuk melukai



B. Asuhan Keperawatan

1. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji

1. Masalah keperawatan : Perubahan proses pikir : waham

Data subjektif :
  • Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
Data objektif :
  • Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan/ realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung.
2. Diagnosa Keperawatan
1). Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham.
2). Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan harga diri rendah.

3. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa 1: Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berubungan dengan waham.

Tujuan umum :
  • Klien tidak menciderai diri, orang lain, dan lingkungan.
Tujuan khusus :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. 
    Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksinya.

Tindakan :
  • Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (topik, waktu, tempat).
  • Jangan membantah dan mendukung waham klien : katakan perawat menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan anda" disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien.
  • Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi : katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.
  • Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri.
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki. 
    Rasional : Dengan mengetahui kemampuan yang dimiliki klien, maka akan memudahkan perawat untuk mengarahkan kegiatan yang bermanfaat bagi klien dari pada hanya memikirkannya.

Tindakan :
  • Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
  • Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.
  • Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan perawatan diri).
  • Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.
3. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi. 
    Rasional : Dengan mengetahui kebutuhan klien yang belum terpenuhi perawat dapat merencanakan untuk memenuhinya dan lebih memperhatikan kebutuhan klien tersebut sehingga klien merasa nyaman dan aman.

Tindakan :
  • Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
  • Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
  • Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
  • Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
  • Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.
4. Klien dapat berhubungan dengan realitas. 
    Rasional : Menghadirkan realitas dapat membuka pikiran bahwa realita itu lebih benar dari pada apa yang dipikirkan klien sehingga klien dapat menghilangkan waham yang ada.

Tindakan :
  • Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).
  • Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
  • Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien.
5. Klien dapat menggunakan obat dengan benar. 
    Rasional : Penggunaan obat yang secara teratur dan benar akan mempengaruhi proses penyembuhan dan memberikan efek dan efek samping obat.

Tindakan :
  • Diskusikan dengan klien tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat.
  • Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan waktu).
  • Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
  • Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.
6. Klien dapat dukungan dari keluarga. 
   Rasional : Dukungan dan perhatian keluarga dalam merawat klien akan mambentu proses penyembuhan klien.
Tindakan:
  • Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang : gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
  • Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga
 
2. Diagnosa 2: Perubahan proses pikir: waham berhubungan dengan harga diri rendah

Tujuan umum :
  • Klien tidak terjadi perubahan proses pikir: waham dan klien akan meningkat harga dirinya.
Tujuan khusus :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya 

Tindakan :
  • Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
  • Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
  • Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
  • Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

Tindakan :
  • Klien dapat menilai kemampuan yang dapat Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
  • Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang realistis
  • Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.

Tindakan :
  • Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
  • Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah
4. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki

Tindakan :
  • Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
  • Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
  • Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan 

Tindakan :
  • Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
  • Beri pujian atas keberhasilan klien
  • Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada

Tindakan :
  • Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien.
  • Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
  • Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
  • Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.
4. Evaluasi
a. Klien percaya dengan perawat, terbuka untuk ekspresi waham
b. Klien menyadari kaitan kebutuhan yg tdk terpenuhi dg keyakinannya (waham) saat ini
c. Klien dapat melakukan upaya untuk mengontrol waham
d. Keluarga mendukung dan bersikap terapeutik terhadap klien
e. Klien menggunakan obat sesuai program

Daftar Pustaka
  1. Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 thed.). St.Louis Mosby Year Book, 1995
  2. Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
  3. Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
  4. Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo, 2003
  5. Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung, 2000


Sumber Referensi :
- http://yoedhasflyingdutchman.blogspot.com/2010/04/asuhan-keperawatan-pasien-dengan-waham.html#
- http://materi-kuliah-akper.blogspot.com/2010/06/waham.html